The Institute for Ecosoc Rights

Rabu, 5 Juli 2006

Gempa Jogyakarta Mengguncang PRT Singapura

Diarsipkan di bawah: Busung Lapar — by ecosocrights @ 11:12

Oleh Savitri Wisnuwardhani

KESEDIHAN, ketakutan, kegelisahan, kemarahan dan kepasrahan bercampur aduk dalam diri sebagian besar korban gempa Jogyakarta dan Jawa Tengah pertengahan Mei 2006. Perasaan ini jugalah yang membebani diri Fitri, seorang PRT migran di Singapura yang keluarganya menjadi korban bencana gempa. Dalam dirinya ia selalu bertanya, “Bagaimana keadaan orangtuaku? Apakah mereka selamat? Di manakah mereka akan tidur? Bagaimana mereka menghadapi trauma ini?” Pertanyaan-pertanyaan ini selalu menghantui hari-harinya selama ia bekerja sebagai PRT di Singapura, nun jauh dari kampung halamannya yang porak poranda diguncang petaka. Ia jadi sulit berkonsentrasi sewaktu bekerja.

Apakah Fitri akhirnya bisa bertemu dengan orangtuanya di Jogyakarta? Masih hidupkah mereka? Bagaimana nasibnya?IA MENCOBA bertanya kepada majikannya apakah ia diperbolehkan untuk pulang ke Jogya walaupun hanya beberapa hari saja. Namun, majikan tidak mengijinkan permintaannya dengan alasan ia baru beberapa bulan bekerja. Majikan bilang bahwa setelah dua tahun ia baru bisa mengunjungi keluarganya. Dengan rasa kecewa dan pasrah, ia hanya bisa memantau kondisi keluarganya melalui telpon, pesan singkat dan lewat temannya seorang wartawan yang kebetulan ke Jogya untuk meliput korban gempa Jogya dan Jawa Tengah.

Ia meminta teman wartawannya itu untuk meluangkan waktu menengok keluarganya di daerah Sleman, Jogyakarta bagian utara. Ia kenal dengan wartawan ini ketika ia ada di shelter, sebuah tempat penampungan sementara bagi para PRT Singapura yang mendapat masalah dengan para majikan. Di sinilah ia bertemu dan menjadi salah satu teman terdekatnya. Dari wartawan inilah, ia juga mendapat pengetahuan untuk mengembangkan talenta pada dirinya yakni kemampuan untuk memotret. Dan hasil dari jepretannya sudah di publikasikan dalam sebuah pameran di Singapura yang disponsori oleh berbagai pihak yang diusahakan oleh teman wartawannya tersebut.

Hati Fitri mulai sedikit tenang ketika temannya memberitahukan bahwa keadaan keluarganya baik-baik saja, walaupun keluarganya masih trauma terhadap gempa sehingga mereka tidak berani tidur di dalam kamar tidur melainkan di ruang tamu dan di halaman depan rumah. Keluarganya memang masih belum bisa bangkit dari trauma karena peristiwa itu sangat menegangkan dan menakutkan bagi mereka. Selain trauma, sebagian kecil dari rumah keluarga Fitri juga terkena gempa. Bagian yang terkena gempa adalah bagian dapur dan beberapa pondasi sudah retak-retak. Namun untunglah kondisi bangunan tersebut masih kokoh dan layak dipakai.

FITRI memulai bekerja di Singapura tahun 2003. Sampai sekarang ia belum dapat pulang ke rumah karena harus menyelesaikan kontrak kerjanya. Ia berasal dari keluarga petani yang cukup berhasil karena ayahnya selain bertanam padi, ia juga bertanam tembakau. Namun sayang, usaha tani keluarga Fitri selama hampir lima sejak 2002 tidak membuahkan hasil.
Terdorong rasa kasihan dan ingin membantu beban kedua orangtuanya, Fitri dan kakaknya mencoba merantau ke negeri orang dengan bekerja sebagai PRT. Persyaratan demi persyaratan dilaluinya. Akhirnya sampailah pada tes kesehatan. Pada tes inilah kakak Fitri dinyatakan tidak lulus dan hanya Fitrilah yang dapat bekerja ke Singapura. Maka disertai doa dan restu kedua orangtuanya dan harapan akan sukses bekerja serta mendapatkan uang banyak, Fitri berangkat ke Singapura tahun 2004.

Ada banyak sekali Fitri-Fitri lain yang ingin pulang, rindu akan kampung halamannya. Apalagi jika keluarga di kampung halaman terkena bencana dan musibah. Namun apa daya, banyak hal yang menyebabkan mereka tidak dapat segera pulang. Salah satunya yang dialami oleh Fitri ini.***

Categories: [Buruh Migran_] [Perempuan_]

Sulitnya Memotret Anak Busung Lapar

Diarsipkan di bawah: Busung Lapar — by ecosocrights @ 1:43

Oleh Sri Palupi*)

SIMAKLAH potret anak busung lapar di bawah ini. Sebut saja Silvana. Umurnya belum mencapai tiga tahun. Kesan sekilas, wajah anak itu menghindari sorot kamera. Beberapa kali aku memotret anak busung lapar, hasilnya tidak jauh beda. Tak satu pun dari anak-anak itu yang wajahnya menghadap kamera. Mengapa bisa demikian? Apakah anak-anak itu takut pada sorot kamera? Ataukah mereka malu? Atau barangkali anda menduga mereka terganggu dengan kilatan blitz yang menyilaukan itu? Sama sekali tidak!! Masalahnya bukan pada diri anak-anak itu, tetapi pada pemegang kamera. Bukan anak-anak itu yang takut pada kamera, tapi pemegang kameralah yang tak punya keberanian menatap wajah anak-anak itu.

Bayangkan seandainya andalah pemegang kamera itu. Dengan kamera di tangan anda, rasanya siapapun siap anda bidik. Tidak demikian yang terjadi kalau saja anda menatap wajah anak-anak busung lapar. Barangkali apa yang anda alami tidak berbeda jauh dengan pengalamanku memotret anak-anak itu. Ketika mata kamera kuarahkan ke wajah anak-anak itu, sebilah pisau tajam serasa melesat dari sorot mata mereka: “Mengapa aku? Mengapa kaubiarkan aku seperti ini?” Sebagai orang dewasa, aku tak siap menghadapi gugatan setajam itu. Karenanya aku tak pernah bisa bertatap mata dengan anak-anak itu lewat kameraku. Aku memotret anak-anak itu tanpa menatap wajahnya. Dengan cara seperti itu, setidaknya aku masih bisa memotret tubuh mereka tanpa harus menghadapi sorot mata mereka.

Jangankan menatap sorot mata. Melihat sosok tubuh belia yang renta itu saja rasanya butuh keberanian ganda. Anak-anak busung lapar itu hadir dengan wajah gelisah dan rewel. Mereka lapar, tapi tubuhnya tak kuasa menyerap makanan biasa. Setiap suap yang disodorkan secara paksa pada mulutnya, ia muntahkan kembali. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Tak seorangpun tahu apa yang dirasakannya. Namun dari wajahnya kita bisa membaca siratan rasa sakit luar biasa. Lapar dan sakit membuat anak-anak itu menangis dan terus menangis. Lapar telah merampas, bukan saja bobot tubuh anak-anak itu, tetapi juga umur mereka. Simaklah sekali lagi tubuh Silvana. Siapa menyangka ia belum tiga tahun. Meski belum tiga tahun umurnya, tubuh itu telah menyusut dan mengemban kerentaan seorang nenek tua yang kenyang makan asam garam dunia. Tragis.

Sebenarnya baru enam hari aku mengenal Silvana. Ia kutemui dalam perjalanan ke Sumba Barat pada September 2005 untuk menjajagi masalah busung lapar di daerah itu. Saat kutemui ia terbaring lemah di satu bangsal rumah sakit di daerah Weetebula, Sumba Barat, NTT. Aku tinggal di salah satu kamar di rumah sakit itu, persis di belakang bangsal anak, tempat Silvana dirawat akibat marasmus. Dalam enam hari aku tinggal di rumah sakit itu, setidaknya dua kali sehari aku memandang wajah anak itu dan menyaksikan tubuhnya lunglai kelelahan. Dua kali sehari pula setidaknya aku melihatnya menangis luar biasa. Kusebut luar biasa, karena yang terjadi sebenarnya bukanlah tangisan, tetapi jeritan kencang.

Tataplah sekali lagi wajah anak itu. Bukankah otot muka dan lehernya menegang dan membesar layaknya orang berteriak atau menjerit? Meski menangis dan terus menangis, tak sebutir air mata pun meluncur dari pelupuk matanya. Meski menjerit lagi dan lagi, ruangan tempat ia dibaringkan tetaplah sunyi. Padahal dari ruang lain orang bisa dengar suara tangis anak-anak susul-menyusul beradu keras. Sementara tak seorang pun mendengar tangis lirih Silvana, betapapun ia sudah sudah menjerit. Ada yang salah dengan pita suaranya. Tampaknya busung lapar tak hanya menggerogoti tubuh dan otak Silvana, tetapi juga memakan air mata dan rintih tangisnya. Anehnya para pengunjung di rumah sakit itu terusik, bukan oleh suara keras anak-anak di bangsal sebelah tapi oleh teriakan sunyi gadis cilik yang tengah didera kesakitan akibat busung lapar.

Para pengunjung turut bersimpati atas derita Silvana, namun tak satu pun dari mereka yang kuasa mendekat. Apalagi menyentuhnya. “Tak tahan melihatnya,” komentar mereka. Kalau melihat dari dekat saja sudah tidak tahan, bisa anda bayangkan keberanian macam apa yang dibutuhkan untuk membidik anak busung lapar dengan wajah menghadap kamera? Terlebih bagi orang-orang macam aku ini, yang tak biasa dengan kamera. Meskipun setiap hari aku menengok Silvana, namun keberanian untuk memotretnya baru muncul di menit terakhir menjelang kepulanganku ke Jakarta. Potret itu pun terasa sekenanya.

Sembilan bulan berlalu setelah aku memotret Silvana. Kini satu angan-angan mengalir dari ruang batinku. Andai busung lapar tidak menelan habis air mata, rintihan dan jeritan anak-anak itu, tentulah jerit tangis seorang anak marasmus macam Silvana sudah cukup menggerakkan siapa pun untuk melakukan apa pun demi menghindarkan setiap anak dari ancaman busung lapar. Sayang, yang terjadi tidaklah demikian. Derita jutaan anak busung lapar di berbagai pelosok negeri ini masih dianggap sepi. Sebab tangis mereka tanpa air mata dan jeritan mereka tanpa suara.

Seandainya saja aku punya keberanian lebih, akan kuhadirkan setidaknya dua sorot mata Silvana lewat bidikan kameraku. Siapa tahu sorot mata itu masih bisa menggerakkan siapa saja untuk melakukan apa saja demi anak-anak itu. Siapa tahu pula ada kamera-kamera lain yang juga tergerak untuk menghadirkan sejuta sorot mata anak busung lapar di sejuta tempat yang lain. Barangkali dengan hadirnya jutaan sorot mata anak-anak busung lapar yang dari tahun ke tahun terus bertambah itu, membuat bangsa ini dapat menyikapi masalah busung lapar sebagai tragedi yang sepantasnya ditangani secara serius.

Penanganan serius hanya bisa dibuktikan dengan dijalankannya pendekatan yang lebih menyentuh akar persoalan. Selama ini penanganan masalah busung lapar cenderung dijalankan dengan pendekatan proyek, bersifat emergency dan tidak mengatasi masalah. Terbukti, angka penderita busung lapar di NTT, misalnya, sampai sekarang terus bertambah meski milyaran rupiah sudah dikucurkan. Sayangnya, aku hanyalah seorang pengecut. Menghadirkan dua sorot mata saja aku tak mampu. ***

* Sri Palupi
Ketua Institute for Ecosoc Rights, peserta program pasca sarjana STF Driyarkara, Jakarta

Categories: [Busung Lapar_]

Didukung oleh WordPress.com