The Institute for Ecosoc Rights

Senin, 31 Juli 2006

Belalang dan Keong Mas di Sumba Timur (1)

Diarsipkan di bawah: Busung Lapar — by ecosocrights @ 7:31

Oleh Prasetyohadi

Benarkah Manusia Tak Berdaya Menghadapi Hama Belalang, Keong Mas dan Kekeringan di Sumba?

MASYARAKAT Sumba di Nusa Tenggara Timur mencatat ‘jutaan’ ekor serangga belalang selama delapan tahun 1998-2005 telah sangat melemahkan ketahanan pangan masyarakat di pulau itu. Hama ini juga menyerang lokasi-lokasi lain, meski jangkanya lebih pendek. Padi, jagung dan kelapa adalah sasaran mereka. Jika padi dan jagung diganyang habis oleh hama belalang, maka dipastikan mereka tak akan bisa makan seperti biasa. Kemungkinan besar: kelaparan. Banyak orang di Sumba menceriterakan ketika sawah dan ladang mereka disikat belalang, mereka tak tahu mau berbuat apa. Putus asa. Kutuk Tuhan, barangkali. Sejak zaman baheula. Meskipun rasanya manusia sulit belajar dari sejarah, toh ada geliat di sana. Apa upaya-upaya yang dilakukan masyarakat di Sumba Timur untuk menangani hama keparat itu?

Ketika saya kunjungi di rumahnya, Mei 2006, Agus Dapa Loka, seorang petani sekaligus juga guru SMU Andaluri di Waingapu menceriterakan bagaimana mereka kecapaian berusaha mengusir puluhan ribu belalang (Locusta migratoria manilensis) sebelum suami-istri-anak itu akhirnya menangkupkan saja kedua lengan mereka di atas kepala. Tanda mereka sudah menyerah. “Mau apa lagi?” keluhnya sambil terus makan pinang.

Hampir semua petani yang saya temui di Sumba mengeluh dengan cara yang sama. Malah ada juga yang mengisahkan bagaimana mobil pun akhirnya tak bisa jalan, ketika ribuan belalang itu merangkak-rangkak di atas jalan raya beraspal sebelum terlindas oleh ban mobil. Selip. Belalang-belalang terinjak ban mobil. Langsung mati tergencet gepeng. Jadi lendir yang membasahi aspal. Bisa dibayangkan jika jumlah serangga itu ratusan ribu? Atau kalau mobil sedang di tanjakan? Pernah juga ada yang ceritera, pesawat tak jadi terbang karena ribuan belalang sedang lalu lalang di udara.

”Kalau belalang hinggap di pucuk kelapa, kita siap membuat sapu lidi,” tambah petani lain di desa Mauliru, pinggiran kota Waingapu.

Di Kambata Wundut, kecamatan Lewa, keadaannya tak beda. Hosea Merang, mantan sekretaris desa, jebolan kuliah teknik sipil, menceriterakan, belalang tidak makan bulir-bulir padi. Padi di sawah tumbang semuanya. ”Mereka memotong batang padi dari bawah. Padahal sudah menguning.”

Di Jawa, ingat sebentar, bukankah belalang sebanyak itu juga berkembang biak di Gunung Kidul, Yogyakarta? Dan sudah pasti jadi santapan manusia yang lezat, salah satu menu lauk. Tapi kelakuan orang Jawa itu barangkali pamali menurut adat istiadat di Sumba. Orang Jawa (miskin) “rakus”?

Ada yang tak kalah aneh. Setelah hama belalang itu pergi, kemudian tumbuh sejenis gulma rumput yang berbau kurang sedap. Bahkan kambing pun, yang biasanya makan berbagai dedaunan itu, tak mau mendekatinya. Rumput-rumput lain yang biasa dimakan ternak tak bisa tumbuh di sekitar rumput liar ini. Padahal rumput-rumput liar yang bisa setinggi orang dewasa berdiri itu tersebar di mana-mana. Invasi. Mereka menyebutnya rumput “tahi belalang”. Nama lainnya barangkali ini: rumput tai kabala (Chromolina odorata). Pada kaki-kaki belalang itu barangkali terbawa benih-benih rumput liar itu yang berasal dari kawasan sabana atau hutan. Di hutan itulah biasanya kita temui yang sering disebut jadi pemangsa belalang, yaitu burung kakatua. Tapi sayangnya, burung-burung itu sudah banyak dijerat orang. Kembali ke rumput tahi belalang, tampaknya masuk akal bahwa sejauh ini tak terdengar masyarakat setempat pernah menemui jenis rumput itu. Ada kemungkinan besar karena hidup di habitat yang berbeda, tidak lagi di hutan atau sabana, tapi di kawasan pertanian, maka rumput-rumput itu tumbuh dengan penampakan yang sebelumnya tak terlihat.

Semua petani, apalagi yang berpendidikan rendah, di Sumba Timur, singkat kata, merasa putus asa dengan berbagai dampak dan kerugian yang ditimbulkan oleh hama belalang. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Tapi, lagi-lagi anehnya, tahun 2006 tidak ada belalang menyerang lagi. Entah mereka ke mana, setelah delapan tahun, secara sporadis tapi dalam satuan jangkauan yang luas, terus-menerus membabat tanaman-tanaman pangan.

Salah satu ”teori” diungkapkan oleh teman saya dari desa Mauliru, Ndena Njurumana, pegiat organisasi rakyat Forum Komunikasi Organisasi Rakyat (FK-ORA) di Sumba Timur. Dia menduga musim kering panjang selama tiga tahun membuat jutaan belalang tak bisa lagi berkembang biak. Sebagian besar sudah mati sebelum penghujung musim hujan 2006 yang berlimpah airnya. Tapi teori teman saya ini belum terbukti.

Bagaimana masyarakat Sumba menangani hama-hama ini?
Baca kelanjutannya: Belalang dan Keong Mas di Sumba Timur (2)**

Categories: [Petani & Pedesaan_] [Busung Lapar_]

Sabtu, 29 Juli 2006

Perlukah Pendidikan Anti-Senyum?

Diarsipkan di bawah: PRT Migran, Pendidikan, Perempuan — by ecosocrights @ 11:06

SmileOleh Savitri Wisnuwardhani

SENYUM sering dikatakan merupakan ciri budaya bangsa Indonesia dan mungkin juga beberapa negara selain di Indonesia. Senyum merupakan suatu sapaan, suatu ajakan yang tulus. Namun ada beberapa orang yang tidak setuju dengan adanya senyuman sebab senyuman dapat dianggap memancing dan membenarkan tindakan kekerasan baik secara fisik maupun psikologis. Benarkah hal itu? Dan perlukah ada pendidikan anti-senyum untuk mengatasi kekerasan khususnya bagi buruh migran Indonesia (BMI) perempuan yang bekerja di Arab Saudi?

Pandangan perlunya ”tidak tersenyum” terlontar dari seorang staf sebuah perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) dalam suatu dialog publik yang berjudul ”Tantangan dan Implementasi Instrumen Hak Asasi Manusia bagi Buruh Migran Perempuan dan Buruh Migran Tak Berdokumen”. Diselenggarakan oleh Komnas Perempuan, Selasa 25/7/2006. Ia mengatakan bahwa lewat pelatihan-pelatihan PJTKI telah melakukan pembinaan dan pembekalan akhir sebelum BMI khususnya perempuan bekerja ke Arab Saudi. Mereka diajarkan tidak menatap mata majikan, diam dan tidak boleh tersenyum supaya terhindar dari masalah.

Pernyataan staf PJTKI itu membuat saya tergelitik. Lalu muncul pertanyaan di kepala saya, apa yang membuat ia mengatakannya? Apa hubungannya antara senyum dengan kekerasan terhadap perempuan? Apakah itu adalah model pendidikan yang dia berikan kepada BMI perempuan? Mungkin pertanyaan-pertanyaan saya ini juga ada di benak sebagian besar peserta diskusi. Bahkan sampai ada salah satu peserta diskusi yang saking jengkelnya menyilangkan tanda miring di jidatnya ke arah pembicara staf PJTKI itu.

Pernyataan ini juga menggelitik tiga nara sumber diskusi publik yang diundang. Mereka memberikan komentar mengenai ”pelatihan anti-senyum” tersebut yakni bahwa integrasi antara dua orang atau pihak atau masing-masing lebih dari dua yang berasal dari dua negara dan budaya yang berbeda pada dasarnya bukanlah asimilasi. Dalam integrasi pun tidak bisa dicampurkan begitu saja dua cara hidup, dua sikap budaya menjadi satu budaya dengan cara memaksa. Tak bisa dibenarkan pula membuat orang untuk tidak melakukan sesuatu yang secara alam-budayanya memang telah ada di dalam dirinya. Jika dipaksakan, yang terjadi adalah pelanggaran hak asasi manusia.

Selain itu, permasalahan BMI perempuan khususnya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) tidak hanya terkait dengan masalah ”senyum” itu. Mereka juga protes karena –salah satunya– dipandang kurang pengetahuan dan kurang trampil sehingga majikan marah. PRT dipandang bekerja sangat lamban dan tidak bisa berbicara bahasa setempat.

Model pendidikan yang dilakukan para PJTKI pun harus diperhatikan sebagai masalah yang serius. Sistem pendidikan yang amburadul dengan semangat bisnis dan cari keuntungan sebanyak-banyaknya menyebabkan pendidikan yang diberikan oleh PJTKI cenderung lebih mengutamakan pendidikan tatakrama dan pendidikan kewajiban: pendidikan mana boleh dan tidak boleh. Bukan pendidikan yang menguatkan dan memberdayakan.

Misalnya, para calon pekerja migran tidak boleh membuat majikan marah, ditakut-takuti kalau berbuat salah maka akan dipulangkan, tidak boleh membela diri jika disalahkan majikan, kerja tidak boleh istirahat, tidak boleh makan jika tidak diizinkan majikan dan masih banyak lagi yang harus ditaati dan harus dilakukan oleh BMI perempuan. Sedangkan pendidikan lainnya yang membuat BMI perempuan pintar baik secara intelektual maupun kepribadian –seperti pendidikan bahasa, pendidikan sosial budaya di mana ia akan bekerja, hak-hak apa saja yang dapat ia peroleh terutama sebagai warga negara Indonesia yang bekerja– terabaikan atau tidak mendapatkan penekanan dalam kurikulum pelatihan oleh PJTKI.

Malah dalam kenyataannya, walaupun telah diberikan pembekalan dan pembinaan ”anti-senyum”, tetap saja BMI perempuan mengalami kekerasan fisik karena mereka –secara tak sengaja dan secara ”natural”– tersenyum kepada majikan laki-laki, anak laki-laki atau anggota keluarga lainnya. Sehingga yang terjadi adalah bahwa senyuman yang tulus dan hanya sebatas menyapa dianggap telah mengundang, terutama keinginan laki-laki untuk berbuat yang neko-neko.

Akibatnya, para majikan merasa wajar saja melakukan kekerasan terhadap BMI perempuan, sebab istri dari majikan merasa cemburu. Akhirnya, karena kejadian semacam itu, BMI perempuan kemudian dipulangkan, setelah dianiaya, diperkosa atau bahkan dipulang jenazahnya setelah meninggal saat bekerja.

Akibat berikut: PJTKI mempersalahkan BMI itu sendiri karena dipandang kurang mengikuti pendidikan tata krama yang salah satunya dengan pendidikan anti-senyum. Itulah yang secara tersirat terungkap dalam dialog publik di Komnas Perempuan itu.

Haruskah BMI perempuan kita yang bekerja ke luar negeri selalu mendapatkan masalah dan membuat mereka semakin tak berdaya? Jawabannya saya kembalikan kepada pembaca tulisan ini. Apakah Anda setuju dengan pandangan perlunya pendidikan anti-senyum? Ataukah perlu ada pendidikan lain yang lebih memperkecil terjadinya pelanggaran hak asasi manusia bagi BMI perempuan.**

Jumat, 28 Juli 2006

Ama dan Ina serta Anak-anak

Diarsipkan di bawah: Busung Lapar — by ecosocrights @ 12:37

Oleh Yan Koli Bau

Nusa Tenggara Timur! Pagi itu udara sangat dingin. Perut Ina yang sedang mengandung lima bulan terasa sembelit dan semakin lama semakin terasa sakit. Berbagai pertanyaan dan kecurigaan bermunculan tentang mengapa. Apakah diguna-guna orang jahat? Apakah dimarahi oleh arwah orangtua Ina atau Ama karena musim panen tahun silam mereka tidak memenuhi janji memperbaiki kuburan mereka? Ataukah leluhur marah karena mereka belum membangun rumah adat? Ataukah karena mereka melanggar rambu-rambu adat istiadat yang berlaku di kampung mereka? Upaya mencari penyebab rasa sembelit di perut ini menghabiskan banyak waktu tanpa memberikan penjelasan yang memuaskan, apalagi mengakhiri rasa sembelit itu sendiri.

Apa sebab sesungguhnya mengapa perut Ina sembelit?

Ina bertanya pada Ama ketika saya mengunjungi mereka di halaman depan rumah yang ditumbuhi rerumputan berbunga putih yang merana karena kekeringan. Lama diskusi mereka berlangsung. Sembelit. Itu yang mereka bicarakan. Dan saya mendengarnya sambil menikmati sirih dan pinang yang dihidangkan kembali kepada saya setelah mereka menerimanya dari saya sebagai buah tangan menurut adat orang Timor.

Ketika saya membuka kesunyian, menanyakan apa yang dimakan Ina malam sebelumnya, suami-isteri itu saling pandang dan lama merenung. Lalu dengan suara lirih Ama mengatakan Ina tak suka makan di malam hari karena sedang mengandung. Ina hanya makan sepotong singkong rebus. Lantas dengan wajah merah padam Ina mengatakan mungkin perutnya melilit karena tidak makan di malam hari. Dan menurutnya mereka tidak makan semalam sebab tak ada yang bisa dimakan, kecuali beberapa potong singkong yang dicadangkan untuk makan pagi kedua anaknya yang akan ke sekolah. Seorang anak lelaki kelas IV SD dan seorang lagi perempuan duduk di kelas II pada SD yang sama. Dengan menu makan pagi semiskin itu wajar saja tampilan tubuh anak kelas IV SD ini jauh di bawah tampilan anak sebayanya. Adiknya tak berbeda. Sudah dapat dibayangkan pakaian seperti apa yang dikenakan kedua anak ini. Keduanya pergi ke sekolah tanpa alas kaki.

Ina dan Ama bertutur bahwa sejak dahulu kala, ketika mereka dipelihara oleh kakek dan nenek mereka selalu mengalami situasi kelaparan seperti yang mereka alami pagi itu. Entah sedang hamil, menyusui anak atau tidak, para ibu sering menunda makan di malam hari apabila mereka ‘ketiadaan’ atau kekurangan bahan makanan. Sementara anak-anak tetap diupayakan untuk makan di malam hari. Sedangkan sang Ama tetap diprioritaskan makan malam agar dapat menjaga ternak dan bangun sesegera mungkin di pagi hari untuk mengurusi ternak, kebun, dan mencari bahan makanan untuk keluarga.

Ama biasanya bangun sekitar ayam berkokok kedua kali atau sekitar pukul lima pagi. Ia membawa sapi atau kuda mencari rerumputan kering yang masih lembut karena tersiram embun malam. Setelah itu ia mencari bahan makanan untuk dirinya dan keluarganya. Apabila sudah mendapat bahan makanan yang dicari, Ama pulang pada siang harinya. Bahan makanan yang dicarinya berupa aneka jenis ubi, arbila hutan dan batang pohon enau (gewang) untuk membuat putak (sagu), atau jenis makanan lain yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga.

Makanan ini akan dipanggang atau dibakar dan dimakannya sebagian. Sisanya dibawanya untuk mereka yang menanti di rumah. Ketika saya tanya apa yang akan dibawa untuk anaknya yang masih dalam kandungan, ia tertunduk, matanya berkaca-kaca dan mengatakan, “Saya serahkan saja pada yang di atas, karena beginilah saya.” Mungkin inilah sebuah penyerahan diri pertanda kerendahan hati atau mungkin sekedar pembenaran diri. Hanya merekalah yang dapat mengetahuinya.

Sementara itu Ina mengatakan, apabila anak-anak sudah berangkat ke sekolah, Ina akan menyusul ke hutan mencari bahan makanan untuk mereka dan juga makanan untuk ternak babi yang mereka miliki. Sebab, menurut Ina dalam kondisi kelaparan makanan babi dan makanan manusia tidak jauh berbeda. Jika manusia makan isi umbi singkong setelah dikupas, babi makan kulitnya. Manusia makan putak atau sagu yang sudah diolah, babi makan putak mentah yang dirajam, dan sebagainya. Ina dan Ama menuturkan mereka sudah mengalami kondisi seperti ini sejak dahulu, setidaknya ketika hidup bersama kakek dan nenek mereka.*

PERTANYAAN yang perlu dijawab: “Sampai kapan kondisi ini akan berlangsung? Dari mana harus memulai upaya mengakhirinya? Siapa yang harus melakukan upaya itu? Dan akankah ada hasilnya seperti yang diharapkan?”

Apakah jawabannya lebih merupakan mimpi di siang hari? Mungkin juga. Sebab, sebegitu jauh pemerintah dan badan-badan swasta di berbagai tingkatan sudah menumpahkan perhatian dan bantuan, tapi hasilnya masih tak tampak. Barangkali perlu intervensi dengan warna dan gaya yang berbeda daripada mengikuti cara yang sudah “mentradisi” entah seperti yang dilakukan pemerintah atau lembaga swadaya. Atau barangkali lebih tepat menanyakan pada arwah leluhur seperti yang dilakukan sendiri oleh Ina dan Ama?

Pertanyaan yang terbersit dalam benak ketika menggeluti persoalan kelaparan dan busung lapar adalah ”apa yang dibuat orang miskin dalam hari-hari hidupnya sehingga mereka bisa menderita kelaparan, sakit dan kadang menghantarkan mereka kepada kematian, sementara di tempat lain orang berkecukupan, bersukaria dan berpesta, lalu sakit dan dapat juga membawanya kepada kematian”?

Kelahiran dan kematian tentu saja merupakan dua kepastian dalam hidup. Manusia tak kuasa membatalnya, kecuali dalam situasi tertentu mungkin dapat menundanya. Toh tak akan lama. Namun, siklus dari lahir ke kematian tak sama untuk setiap lapis sosial dalam masyarakat.

Untuk kelompok yang tergolong miskin, terlebih yang secara objektif memang miskin, peristiwa dari lahir sampai kematian merupakan peristiwa penuh kepedihan. Betapa tidak. Anak-anak dari sejumlah keluarga msikin yang menderita gizi buruk dikandung oleh para ibu yang gizi buruk pula selama sembilan bulan masa kehamilan. Dalam masa penantian ini para ibu hamil harus bekerja keras tanpa mengenal jam kerja, mengonsumsi makanan yang sangat rendah kandungan protein, vitamin dan mineralnya. Mereka menghuni rumah yang sangat tak memenuhi syarat kesehatan. Pakaian mereka seadanya, sobek pada bagian tertentu, terutama bagian ketiak, krah leher dan bagian-bagian jahitan yang rawan. Dari pagi hingga malam mereka berupaya memenuhi kebutuhan akan makan meskipun pada akhirnya tetap kurang makan.

Sebaliknya mereka yang tergolong kaya, terlebih para profesional, pegawai pejabat pemerintah dan swasta, khususnya di perkotaan cenderung berkecukupan jika tidak dapat dikatakan berkelebihan. Dikandung dalam keadaan sehat dengan layanan dokter ahli dan dilahirkan melelui proses persalinan yang memenuhi syarat kesehatan, hunian mereka nyaman, indah, memenuhi syarat kesehatan, makanan mereka penuh protein, vitamin dan mineral, dan cenderung mengandung lemak terlalu banyak.

Akhirnya jika tidak saatnya semua mereka akan juga sakit dan mati, pada usia yang berbeda, dengan cara yang berbeda dan perlakuan setelah kematian yang bebeda pula. Kalau demikian apa bedanya antara mereka yang miskin dan kaya, sebab mereka semua dilahirkan dan kemudian juga akan mati? Tidakkah semuanya lahir, sakit dan kemudian akan mati tanpa memandang status sosial dan kepemilikan harta benda?**

Timor, Akhir Juli 2006

Categories: [Petani & Pedesaan_] [Busung Lapar_]

Senin, 24 Juli 2006

Kacang Mede Paling Pahit Se-Dunia

Diarsipkan di bawah: Busung Lapar — by ecosocrights @ 10:06

Oleh Iswanti Suparma

kebun-jambu-mede2.jpgjambu-mede-illust.jpg

KETIKA mobil kami mulai memasuki wilayah Kodi – sebuah kecamatan di Sumba Barat, yang segera menampak di depan mata adalah rimbunnya hijau daun jambu mede. Beberapa di antaranya sudah mulai berbunga di pucuk-pucuknya. Tiga atau empat bulan lagi, sekitar bulan Oktober-November pohon-pohon itu akan dipenuhi buah jambu mede yang merah menua siap dipanen. Dan desa-desa yang dinaungi kebun pohon jambu mede itu akan berubah menjadi hiruk pikuk, seakan baru saja menjemput kehidupan. Mobil kami menuju salah satu desa, namanya Desa Bukambero, desa di mana saya sejenak mampir melongok kehidupan masyarakat setempat.

<span class=”fullpost”>Sejak tahun 1990 proyek jambu atau kacang mede yang diprakarsai dinas perkebunan Pemkab II Sumba Barat mulai dilakukan di wilayah Kec. Kodi. Alhasil, 75% lahan (ladang dan kebun) milik warga digunakan untuk menanam jambu mede. Sebagai akibat proyek penanaman jambu mede, masyarakat tidak bisa lagi menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi, petatas untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Karena baru pada tahun ke-5 jambu mede bisa berbuah, maka selama 5 tahun itu, masyarakat mendapatkan sedikit bantuan dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tapi itu tak mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Sejak proyek penanaman jambu mede, kekurangan pangan dan kelaparan merambat naik terus. Tragisnya, menurut Kades Bukambero, antara tahun 1998 – 2000, 20 orang penduduk desa Bukambero meninggal karena kelaparan.

Dalam hitungan paling bodoh, kekurangan pangan dan kelaparan bisa pelan-pelan menghilang, ketika jambu mede mulai panen dan mereka bisa membeli pangan. Dari luas hampir 1500 ha yang ditanami jambu mede did Bukambero, bisa menghasilkan kurang lebih 1100 ton kacang mede setiap kali panen. Jika dengan harga pasaran rata-rata Rp5.000,-, setidaknya setiap kali panen bisa mendatangkan Rp5 milyar. Bukan angka yang kecil untuk ukuran pemasukan daerah Kabupaten Sumba Barat. Tapi, apa yang terjadi?

Biasanya, hasil panen kacang mede langsung dijual di toko di Waitabula. Penduduk biasa menyebut pemilik toko yang pedagang Cina dengan sebutan “ONGKO” (Tuan Toko). Jika jambu mede telah mulai menua, ongko-ongko itu biasa masuk kampung, untuk membeli panenan kacang mede. Kadang-kadang tiap petani memiliki ongko sendiri-sendiri yang datang memberi panjar, dengan harga pasaran tapi timbangan kurang. Jadi, dari 100 kg, bisa jadi cuma 75 kg yang terhitung. Tapi, terkadang, ada semacam ijon di antara sesama warga sendiri dengan harga di bawah harga pasaran.

Ongko-ongko yang besar di Waitabula, antara lain: toko Eka Putra, Kristal, Atlantik, Timur Agung, Sinar Kasih, Tanjung Karoso, Dunia Indah, Spekulasi, Monika, SS. Ongko-ongko ini saling bersaing. “Ongko-ongko ini seringkali melakukan permainan harga. Harga bisa berubah tiap jam. Ongko-ongko ini kompak permainkan harga! Umumkan harga naik, sampai di toko harga tetap, sementara itu sebenarnya petani ingin tahan hingga harga baik,” cerita seorang penduduk di Kodi. Pemda selama ini tidak cukup turun tangan. Penjualan kacang tidak terorganisasi atau manajemen modal tidak ada. Pernah ada pembeli dari India, ingin membeli dari pribumi, tapi akhirnya jatuh juga ke tangan Cina. Pemda tidak berkutik karena ongko-ongko itu membayar pajak tinggi. Pernah dibuat koperasi, awalnya berjalan bagus, lalu belum genap tiga tahun, uang dan keuntungannya dikorupsi pimpinannya. Walaaah…

Harga yang harus dibayar masyarakat dari berpindahnya manajemen alam dalam pengaturan pola tanam pangan menjadi pola tanam komoditi dengan manajemen pasarnya, tidak mampu ditanggung oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat kehilangan ketahanan hidupnya, dan menanggung kerawanan pangan, kelaparan, sakit-penyakit, kemiskinan. Sepertinya, kebanggan Kodi sebagai daerah penghasil padi ladang paling enak di Sumba akan tinggal menjadi kenangan. Pisang dan alpukat yang juga sangat manis ditanam untuk dinikmati turis di Bali.

Siapa bilang kacang mede adalah kacang paling enak? Karena, buat saya sekarang, kacang mede adalah kacang paling pahit sedunia! Oh Tuhan… saya telah kehilangan “rasa” dari salah satu kacang terbaik yang tumbuh di bumi ini! Selamat tinggal menjadi penggemar kacang mede!***</span>

Kacang Mede Paling Pahit Se-Dunia

Diarsipkan di bawah: Busung Lapar — by ecosocrights @ 5:18

Oleh Iswanti Suparma

KETIKA mobil kami mulai memasuki wilayah Kodi – sebuah kecamatan di Sumba Barat, yang segera menampak di depan mata adalah rimbunnya hijau daun jambu mede. Beberapa di antaranya sudah mulai berbunga di pucuk-pucuknya. Tiga atau empat bulan lagi, sekitar Oktober-November pohon-pohon itu akan dipenuhi buah jambu mede yang merah menua siap dipanen. Dan desa-desa yang dinaungi kebun pohon jambu mede itu akan berubah menjadi hiruk pikuk, seakan baru saja menjemput kehidupan. Mobil kami menuju salah satu desa, namanya Bukambero, desa di mana saya sejenak mampir melongok kehidupan masyarakat setempat.

Sekalipun dalam hitungan dan perkiraan dipandang sangat menjanjikan, mengapa industri pertanian rakyat/pemerintah untuk jambu mede di Sumba Barat justru berdampak sebaliknya? Berapa banyak dampak kelaparan yang diakibatkannya?

Sejak tahun 1990 proyek jambu atau kacang mede yang diprakarsai dinas perkebunan Pemkab II Sumba Barat mulai dilakukan di wilayah Kec. Kodi. Alhasil, 75 persen lahan (ladang dan kebun) milik warga digunakan untuk menanam jambu mede. Sebagai akibat proyek penanaman jambu mede, masyarakat tidak bisa lagi menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi, patatas untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Karena baru pada tahun ke-5 jambu mede bisa berbuah, maka selama lima tahun itu, masyarakat mendapatkan sedikit bantuan dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tapi itu tak mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Sejak proyek penanaman jambu mede, kekurangan pangan dan kelaparan merambat naik terus. Tragisnya, menurut Kades Bukambero, antara 1998–2000, 20 orang penduduk desa Bukambero meninggal karena kelaparan.

Dalam hitungan paling bodoh, kekurangan pangan dan kelaparan bisa pelan-pelan menghilang, ketika jambu mede mulai panen dan mereka bisa membeli pangan. Dari luas hampir 1500 ha yang ditanami jambu mede di Bukambero, bisa dihasilkan kurang lebih 1100 ton kacang mede setiap kali panen. Jika dengan harga pasar rata-rata Rp5.000, setidaknya setiap kali panen bisa mendatangkan Rp5 milyar. Bukan angka yang kecil untuk ukuran pemasukan daerah Kabupaten Sumba Barat. Tapi, apa yang terjadi?

Biasanya, hasil panen kacang mede langsung dijual di toko di Waitabula. Penduduk biasa menyebut pemilik toko yang pedagang Cina dengan sebutan “ONGKO” (Tuan Toko). Jika jambu mede telah mulai menua, ongko-ongko itu biasa masuk kampung, untuk membeli panenan kacang mede. Kadang-kadang tiap petani memiliki ongko sendiri-sendiri yang datang memberi panjar, dengan harga pasaran tapi timbangan kurang. Jadi, dari 100 kg, bisa jadi cuma 75 kg yang terhitung. Tapi, terkadang, ada semacam ijon di antara sesama warga sendiri dengan harga di bawah harga pasaran.

Ongko-ongko yang besar di Waitabula, antara lain: toko Eka Putra, Kristal, Atlantik, Timur Agung, Sinar Kasih, Tanjung Karoso, Dunia Indah, Spekulasi, Monika, SS. Ongko-ongko ini saling bersaing. “Ongko-ongko ini seringkali melakukan permainan harga. Harga bisa berubah tiap jam. “Ongko-ongko ini kompak permainkan harga! Umumkan harga naik, sampai di toko harga tetap, sementara itu sebenarnya petani ingin tahan hingga harga baik,” cerita seorang penduduk di Kodi. Pemda selama ini tidak cukup turun tangan. Penjualan kacang tidak terorganisasi atau manajemen modal tidak ada. Pernah ada pembeli dari India, ingin membeli dari pribumi, tapi akhirnya jatuh juga ke tangan Cina. Pemda tidak berkutik karena ongko-ongko itu membayar pajak tinggi. Pernah dibuat koperasi, awalnya berjalan bagus, lalu belum genap tiga tahun, uang dan keuntungannya dikorupsi pimpinannya. Walaaah…

Harga yang harus dibayar masyarakat dari berpindahnya manajemen alam dalam pengaturan pola tanam pangan menjadi pola tanam komoditi dengan manajemen pasarnya, tidak mampu ditanggung oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat kehilangan ketahanan hidupnya, dan menanggung kerawanan pangan, kelaparan, sakit-penyakit, kemiskinan. Sepertinya, kebanggan Kodi sebagai daerah penghasil padi ladang paling enak di Sumba akan tinggal jadi kenangan. Pisang dan alpukat yang juga sangat manis ditanam untuk dinikmati turis di Bali.

Siapa bilang kacang mede adalah kacang paling enak? Karena, buat saya sekarang, kacang mede adalah kacang paling pahit sedunia! Oh Tuhan… saya telah kehilangan “rasa” dari salah satu kacang terbaik yang tumbuh di bumi ini! Selamat tinggal menjadi penggemar kacang mede!***

Categories: [Petani Pedesaan_] [Busung Lapar_]

Halaman Berikutnya »

Didukung oleh WordPress.com